PkdpNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Dunia pendidikan Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbaiknya ketika Prof. Dr. H. Basir Barthos berpulang pada 17 Juni 2021 lalu.
Meskipun sang nakhoda telah tiada, warisan intelektual yang ditinggalkannya tetap hidup melalui Universitas Borobudur Jakarta (UBJ), yang kini berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu dari perjuangan seorang perantau Minang yang memiliki visi besar dalam mencerdaskan bangsa.
Universitas Borobudur, yang saat ini menjadi salah satu kampus ternama di Indonesia, bukanlah lahir begitu saja dalam kondisi yang sempurna.
Ia berawal dari sebuah gedung kontrakan sederhana yang menjadi tempat perjuangan seorang anak bangsa yang memiliki semangat juang dan tekad untuk memberikan kontribusi besar dalam dunia pendidikan.
Perantau Minang dengan Visi Besar
Lahir di Padang pada 12 Mei 1940, Prof. Basir Barthos sejak muda sudah menunjukkan semangat juang yang tinggi.
Sebagai seorang perantau Minang, ia membawa filosofi hidup yang sangat erat kaitannya dengan kerja keras dan keberanian untuk mengubah nasib.
Ia menginjakkan kaki di Jakarta dengan tekad untuk belajar dan berkontribusi dalam pembangunan negara.
Sebelum dikenal sebagai pendiri Universitas Borobudur, Basir Barthos memiliki karier akademis yang cemerlang.
Ia dipercaya untuk menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) di Universitas Jayabaya, sebuah posisi yang membentuk kemampuan manajerialnya dalam dunia pendidikan.
Namun, perjalanan kariernya tak berhenti di sana. Basir memiliki impian yang lebih besar—untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi yang berkualitas.
Langkah Berani dari Matraman Raya
Kisah berdirinya Universitas Borobudur adalah cerminan nyata dari kekuatan mimpi dan keyakinan untuk mewujudkan visi besar, meskipun dengan modal yang sangat terbatas.
Pada tahun 1971, Basir Barthos mendirikan Yayasan Pendidikan Borobudur (YPB) pada tanggal 11 Maret, sebagai langkah pertama untuk mewujudkan cita-citanya.
Namun, seperti banyak pejuang pendidikan lainnya, ia menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan fasilitas.
Tidak menyerah, ia kemudian mengontrak sebuah gedung SD Negeri di Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat, pada tahun 1972.
Di tempat yang sederhana itu, Basir membuka tiga akademi: Akademi Akuntansi, Akademi Keuangan/Perbankan, dan Akademi Bahasa Asing.
Meski berada di sebuah gedung kontrakan, semangatnya untuk memberikan pendidikan berkualitas tidak pernah surut.
Pada awalnya, akademi ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana hingga rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan tinggi.
Namun, berkat dedikasi dan perjuangan tanpa henti, jumlah mahasiswa yang tertarik untuk bergabung terus meningkat.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa meskipun dimulai dengan keterbatasan, visi yang jelas dan tekad yang kuat bisa mengalahkan segala rintangan.
Transformasi Menjadi Universitas Borobudur
Melihat animo masyarakat yang terus bertambah, Basir Barthos pun mengambil langkah strategis pada tahun 1982 untuk meningkatkan status akademi-akademi tersebut menjadi Universitas Borobudur.
Pada saat itu, ia tidak hanya mengandalkan keberanian semata, tetapi juga kebijakan yang bijak dalam mengelola sumber daya yang ada.
Kehadiran Universitas Borobudur di Jakarta Timur memberikan angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Sebagai upaya untuk mengakomodasi permintaan yang semakin besar, Basir memindahkan kampusnya ke sebuah lahan seluas 4 hektare di Jalan Raya Kalimalang, Jakarta Timur.
Di lokasi ini, ia membangun fasilitas modern yang kini menjadi tempat bagi lebih dari 8.000 mahasiswa dan ratusan tenaga pengajar profesional.
Sukses Membangun “Dinasti” Intelektual
Keberhasilan Basir Barthos dalam mendirikan Universitas Borobudur tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik kampus, tetapi juga pada pembentukan sistem nilai yang kuat.
Dalam mengelola universitas, ia tidak hanya mengutamakan keberhasilan akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan moral para mahasiswanya. Lebih dari itu, ia juga menurunkan nilai-nilai dedikasi kepada keluarganya.
Prof. Basir Barthos menikah dengan Rohana Suganda dan dikaruniai tujuh orang anak. Tidak hanya sebagai seorang ayah,
Basir juga menjadikan keluarganya sebagai mitra dalam perjuangan mendirikan dan mengembangkan Universitas Borobudur.
Anak-anaknya kini menjadi penerus estafet perjuangannya, melanjutkan visi besar yang telah ia tanamkan sejak awal.
Putra sulungnya, Bambang Bernanthos, kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Borobudur.
Megawati Barthos, anak kedua, mengabdi sebagai Dekan Fakultas Hukum di universitas yang didirikan ayahnya.
Sementara itu, anak ketiganya, Mohammad Guntur, aktif di dunia politik dan kini menjabat sebagai Ketua Umum Pemuda Perti serta Laskar Muda Hanura.
Warisan intelektual Prof. Basir Barthos tidak hanya terpatri pada fisik universitas yang megah, tetapi juga pada semangat pengabdian yang diwariskan kepada anak-anaknya dan seluruh jajaran pengelola Universitas Borobudur.
Mereka melanjutkan perjuangan ayah mereka untuk mencerdaskan bangsa dan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan di Indonesia.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Bagi banyak orang, Prof. Basir Barthos adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih sukses.
Ia membuktikan bahwa sebuah institusi besar bisa lahir dari sebuah gedung SD kontrakan, asalkan dilandasi oleh visi yang jernih, semangat pantang menyerah, dan dedikasi yang tak mengenal lelah.
Melalui perjuangan kerasnya, Prof. Basir Barthos mampu menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya berbicara soal angka-angka dan statistik, tetapi juga tentang membangun karakter, memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk mengenyam pendidikan tinggi, dan mendorong para mahasiswanya untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Kini, Universitas Borobudur Jakarta telah berkembang menjadi salah satu universitas terkemuka di Indonesia.
Ribuan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi monumen hidup atas jasa-jasa Prof.
Basir Barthos. Mereka adalah bukti bahwa visi besar yang dirintis dari gedung SD kontrakan bisa mengubah nasib bangsa melalui jalur pendidikan.
Pendidikan sebagai Kunci Pembangunan Bangsa
Prof. Basir Barthos selalu meyakini bahwa pendidikan adalah kunci untuk membangun bangsa yang lebih maju dan sejahtera.
Ia percaya bahwa setiap anak Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, dan pendidikan adalah sarana terbaik untuk menggali dan mengembangkan potensi tersebut. Itulah sebabnya, meskipun berawal dari ketidakpastian dan tantangan besar,
Basir Barthos tetap teguh pada keyakinannya untuk mendirikan universitas yang bisa memberikan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas.
Pendirian Universitas Borobudur adalah sebuah simbol dari betapa pentingnya tekad dan keberanian untuk memulai sesuatu, bahkan ketika segala sesuatu tampak tidak memungkinkan.
Prof. Basir Barthos mengajarkan kita bahwa kesuksesan bukanlah soal seberapa besar modal yang dimiliki, tetapi seberapa besar visi dan komitmen kita terhadap tujuan yang lebih mulia.
Pesan untuk Generasi Muda
Kini, dengan kepergiannya pada 17 Juni 2021, Prof. Basir Barthos meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga bagi dunia pendidikan Indonesia.
Bagi generasi muda, beliau adalah teladan dalam hal ketekunan, keberanian, dan komitmen untuk membangun sesuatu yang besar dari hal-hal yang sederhana.
“Mimpi itu harus berani diwujudkan, meskipun dimulai dengan langkah kecil. Yang terpenting adalah semangat untuk terus maju dan tidak pernah menyerah,” pesan Prof. Basir Barthos kepada para generasi muda yang kelak akan meneruskan perjuangannya.
Mengenang Prof. Basir Barthos bukan hanya tentang mengenang seorang tokoh yang telah berjasa dalam dunia pendidikan, tetapi juga tentang menghargai perjalanan panjang yang dilaluinya.
Dari sebuah gedung SD kontrakan hingga menjadi universitas yang mengilhami ribuan orang, perjuangannya mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah pilar utama dalam membangun masa depan bangsa.
Universitas Borobudur Jakarta adalah monumen hidup dari semangat dan visi besar Prof. Basir Barthos, yang terus akan menginspirasi generasi-generasi berikutnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan berjuang. | PkdpNews.Com | */Redaksi | *** |


1 Comment
oke