PkdpNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Di tengah acara pelantikan wali nagari di Gedung PCC Painan, terdapat satu sosok yang mencuri perhatian lebih dari yang lainnya.
Di antara jajaran pejabat yang dilantik, tampak seorang pria dengan pakaian dinas harian (PDH) putih yang berdiri tegak, tenang, dengan sorot mata penuh makna.
Sosok itu adalah Syafrijon Dt. Rajo Panjang, seorang lelaki yang melangkah menuju posisi kepemimpinan bukan melalui jalan yang instan, melainkan dengan perjalanan panjang yang penuh kesabaran, kerja keras, dan pengabdian yang tulus.
Syafrijon, yang kini mengemban amanah sebagai Wali Nagari, merupakan contoh nyata bahwa kepemimpinan yang sejati dibangun melalui proses yang tidak terburu-buru, namun penuh makna dan pengorbanan.
Lahir pada tahun 1968 di Kampung Tanjung, Duku Utara, Syafrijon adalah anak kedua dari empat bersaudara.
Dalam keluarga sederhana ini, ia dibesarkan dengan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen terhadap adat yang diajarkan oleh orang tuanya.
Ayahnya, Almarhum Junit Dt. Rajo Batuah, dan ibunya, Nurbaiti, menjadi figur yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter dan cara pandangnya terhadap kehidupan.
Pendidikan dan Awal Perjalanan Kehidupan
Pendidikan formal Syafrijon dimulai di Sekolah Menengah Teknik (STM) 2 Padang, sebuah institusi yang membekalinya dengan kemandirian dan daya juang yang tinggi.
Namun, setelah menyelesaikan pendidikannya, Syafrijon tidak memilih jalur karier yang mudah atau menjanjikan keuntungan materi yang besar.
Sebaliknya, ia memilih untuk menjadi bagian dari masyarakatnya, dengan berperan sebagai agen gambir, pinang, dan rempah-rempah—komoditas yang menjadi denyut nadi perekonomian kampung tempat ia dibesarkan.
Dari perjalanan ini, Syafrijon belajar untuk lebih memahami kebutuhan masyarakat. Ia merasakan langsung jerih payah petani dan pelaku ekonomi kecil, serta betapa kerasnya kehidupan masyarakat bawah yang selalu berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Semua pengalaman itu, menurutnya, adalah pelajaran berharga yang membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan.
Menjadi seorang pemimpin, menurutnya, bukan hanya tentang memiliki kekuasaan, tetapi tentang memahami dan merasakan kehidupan rakyat kecil.
Menjadi Pengabdi di Nagari dan Masjid
Di tingkat nagari, nama Syafrijon tidak asing lagi. Sebelum akhirnya dipercaya untuk menjabat sebagai Wali Nagari, ia telah mengabdi dalam berbagai peran penting di komunitasnya.
Salah satunya adalah sebagai Kaur di Duku Utara, sebuah jabatan yang membantunya lebih memahami struktur pemerintahan lokal dan cara melayani masyarakat.
Ia kemudian dipercaya untuk menjadi anggota Badan Musyawarah (Bamus), di mana peran dan tanggung jawabnya semakin besar.
Namun, Syafrijon bukanlah sosok yang gemar mencari sorotan atau mengumbar janji-janji. Sebaliknya, ia lebih memilih untuk bekerja dalam diam, dengan hasil yang berbicara sendiri.
Setiap keputusan yang diambilnya selalu didasarkan pada kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Keterlibatannya dalam Masjid Nurul Ibadah Kampung Tanjung juga menjadi bukti nyata dari dedikasinya. Di masjid inilah ia mengabdikan diri sebagai bendahara, mengurus amanah umat dengan penuh ketelitian dan kejujuran.
Menurutnya, masjid bukan hanya sekadar tempat untuk beribadah, tetapi juga ruang untuk menempa kesabaran dan keikhlasan.
“Di masjid, saya belajar banyak tentang kejujuran, ketulusan, dan bagaimana memberikan yang terbaik untuk orang lain,” ungkapnya.
Keterlibatannya ini memperlihatkan komitmennya dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat, serta menunjukkan pentingnya nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Kepemimpinan yang Dibangun dengan Kepercayaan
Salah satu hal yang menonjol dari perjalanan Syafrijon adalah keteguhannya dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Bukan karena suara lantangnya, bukan pula karena janji-janji besar yang sering terdengar dalam politik, tetapi karena rekam jejaknya yang konsisten dan terpercaya.
Masyarakat tidak melihatnya sebagai sosok yang mencari popularitas atau kemuliaan, melainkan sebagai seorang pemimpin yang siap hadir, bekerja, dan melayani.
“Bagi saya, kepemimpinan bukan soal mengatur atau memerintah. Kepemimpinan itu soal memberi contoh, soal hadir untuk rakyat, dan soal menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesungguhan,” kata Syafrijon dalam sebuah kesempatan.
Itulah sebabnya, meskipun ia tidak mencari perhatian publik, pengabdiannya yang penuh ketulusan akhirnya mengantarkannya pada posisi yang kini ia emban.
Pada saat pelantikan wali nagari di Gedung PCC Painan, semua orang yang hadir tahu bahwa Syafrijon bukanlah sosok yang meraih posisi tersebut melalui jalan pintas. Ia meraihnya melalui perjalanan yang panjang, penuh tantangan, dan penuh dedikasi.
Pelantikan Wali Nagari : Sebuah Titik Puncak yang Dicapai dengan Kerja Keras
Pelantikan Syafrijon Dt. Rajo Panjang sebagai Wali Nagari di Gedung PCC Painan bukan sekadar sebuah acara formalitas belaka.
Itu adalah titik puncak dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan dan pengabdian.
Saat ia berdiri di sana, mengenakan seragam putih wali nagari, bukan hanya tanggung jawab jabatan yang dipikulnya, tetapi juga beban harapan dan kepercayaan masyarakat yang telah lama ia bina.
Sebagai pemimpin, Syafrijon tidak hanya menghadapi tantangan administratif, tetapi juga tantangan moral.
Ia harus terus menjaga integritas, kejujuran, dan komitmennya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat berharap agar ia dapat membawa perubahan positif, menyelesaikan permasalahan yang ada, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Namun, Syafrijon menyadari bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang sangat besar, dan ia tidak berniat untuk meraih kesuksesan pribadi semata.
“Saya berkomitmen untuk mengabdi, untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat, dan untuk membangun nagari ini menjadi lebih baik lagi. Ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang kita semua,” tegasnya.
Nilai-Nilai yang Diterapkan dalam Kepemimpinan
Syafrijon Dt. Rajo Panjang bukanlah sosok yang memimpin dengan kata-kata bombastis atau janji-janji kosong.
Kepemimpinan yang ia terapkan adalah kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai sederhana, tetapi mendalam.
Nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab adalah fondasi utama yang ia pegang teguh dalam setiap langkahnya.
Ia percaya bahwa untuk meraih kemajuan, masyarakat harus saling bergotong-royong, berbagi beban, dan bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.
Menurutnya, perubahan yang sesungguhnya dimulai dari kesadaran kolektif dan komitmen untuk menjaga kebersamaan.
“Kita harus bersatu untuk memajukan nagari kita. Kepemimpinan bukan tentang memisahkan, tetapi tentang menyatukan dan membimbing masyarakat menuju kesejahteraan yang lebih baik,” ujar Syafrijon.
Masa Depan Nagari dan Harapan Syafrijon
Kini, dengan amanah baru yang ia pikul sebagai Wali Nagari, Syafrijon Dt. Rajo Panjang berharap dapat mengimplementasikan segala pembelajaran dan pengalaman yang telah ia peroleh dalam perjalanan hidupnya.
Ia bertekad untuk menjadikan nagarinya lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih adil bagi seluruh masyarakat.
Bagi Syafrijon, posisi ini bukan sekadar jabatan, tetapi sebuah tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi dan semangat untuk memperbaiki keadaan.
Sebagai seorang pemimpin yang telah melalui banyak proses panjang, Syafrijon menyadari bahwa keberhasilan tidak akan datang dalam semalam.
Namun, dengan kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan, ia yakin bahwa perubahan menuju yang lebih baik pasti akan tercapai.
“Ini baru awal, dan perjalanan kita masih panjang. Saya berharap kita semua bisa terus bekerja bersama, saling mendukung, dan menjaga kebersamaan agar nagari ini bisa lebih baik ke depannya,” tutupnya penuh harapan. | PkdpNews.Com | */Redaksi | *** |


1 Comment
oke