PkdpNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai Ibu Negara Malaysia, tetapi juga seorang dokter berprestasi, aktivis sosial, dan ibu dari generasi pemimpin di Malaysia.
Pendahuluan
Lahir di Klang, Selangor, Malaysia, pada 12 Juli 1926, kehidupan dan kariernya mencerminkan dedikasi luar biasa terhadap kemanusiaan, kesehatan, dan pendidikan.
Namun, di balik kesuksesannya, ada kisah keluarga yang sangat erat dengan tanah Minangkabau, khususnya dari Rao, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia.
Tun Siti Hasmah merupakan istri dari Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia ke-4 dan ke-8. Bersama suaminya, ia turut memimpin Malaysia selama dua periode berbeda: 1981 hingga 2003 dan 2018 hingga 2020.
Meski sering berada di balik layar, perannya sebagai pendamping suami, ibu negara, dan seorang tokoh masyarakat sangatlah signifikan.
Namun, selain peran besarnya di dunia politik dan sosial, ia juga menjadi simbol perjuangan keluarga perantau asal Sumatera Barat yang berhasil menorehkan prestasi gemilang di tanah Malaysia.
Latar Belakang Keluarga: Akar Keluarga dari Pasaman
Tun Dr. Siti Hasmah adalah anak dari pasangan Mohamad Ali bin Mohd Taib dan Siti Khalijah binti Ahmad. Kedua orang tuanya berasal dari Koto Rajo, Rao, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia.
Keluarga besar Siti Hasmah, meski berasal dari tanah Minang yang dikenal dengan semangat perjuangan dan keberaniannya, telah melahirkan berbagai tokoh penting yang berpengaruh di Malaysia.
Kehadiran mereka di negeri jiran ini menjadi contoh nyata bagaimana perantauan dapat melahirkan keluarga besar yang berkontribusi besar di tingkat nasional.
Selain Tun Siti Hasmah, saudara-saudaranya juga tidak kalah berjaya. Beberapa di antaranya menjadi tokoh terkemuka di Malaysia, seperti:
- Ismail Mohamad Ali (kakak): Mantan Gubernur Bank Negara Malaysia (Bank Sentral Malaysia).
- Mohamed Hashim Mohamad Ali (adik): Mantan Panglima Tentara Darat Malaysia.
- Ahmad Razali Mohamad Ali (adik): Mantan Menteri Besar Selangor.
Keberhasilan keluarga ini adalah bukti bagaimana nilai-nilai ketekunan, pendidikan, dan kerja keras yang ditanamkan oleh orang tua mereka—terutama dari akar budaya Minangkabau—berhasil membawa mereka meraih prestasi yang luar biasa di luar negeri.
Pendidikan dan Karier Kedokteran: Menjadi Pelopor Wanita di Dunia Kedokteran
Tun Dr. Siti Hasmah adalah salah satu wanita Melayu pertama yang menempuh pendidikan kedokteran setelah Perang Dunia II.
Ia menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Malaya yang saat itu berlokasi di Singapura.
Setelah menuntaskan pendidikannya pada tahun 1955, Siti Hasmah langsung memulai karier di dunia kesehatan. Sejak awal,
ia menunjukkan dedikasinya terhadap kesehatan ibu dan anak, yang menjadi fokus utamanya dalam praktek medis dan akademis.
Pada tahun 1970, Siti Hasmah menjadi wanita pertama yang ditunjuk untuk menjabat sebagai pejabat di Dinas Kesehatan Ibu dan Anak.
Posisi ini memberikan dampak signifikan pada pengembangan kebijakan kesehatan ibu dan anak di Malaysia, sebuah langkah yang sangat penting mengingat betapa pentingnya kesehatan reproduksi dan pendidikan gizi pada era tersebut.
Selain bekerja di bidang kesehatan, beliau juga banyak menulis artikel yang membahas kedokteran keluarga, serta faktor sosial ekonomi yang memengaruhi kesehatan ibu dan anak. Melalui kontribusinya ini,
Siti Hasmah tidak hanya menjadi figur medis yang dihormati, tetapi juga seorang pionir yang mendorong reformasi dalam kebijakan kesehatan di Malaysia.
Kehidupan Pribadi: Menjadi Ibu Negara dan Pendamping Setia Mahathir Mohamad
Pada tahun 1956, Siti Hasmah menikah dengan Mahathir Mohamad, yang pada akhirnya menjadi Perdana Menteri Malaysia ke-4 dan ke-8.
Perjalanan hidup mereka tidak hanya dihiasi dengan kisah cinta yang penuh dedikasi, tetapi juga dengan perjalanan panjang mengabdi kepada negara.
Sebagai istri dari Mahathir Mohamad, Siti Hasmah menjalani peran sebagai ibu negara dengan sangat mulia.
Ia turut berperan aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, memperjuangkan hak-hak perempuan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Malaysia.
Bersama suaminya, Siti Hasmah tidak hanya mendampingi dalam kehidupan politik, tetapi juga turut berkontribusi dalam berbagai inisiatif pemerintahan yang berfokus pada pembangunan masyarakat.
Meski berada di belakang layar, Siti Hasmah tetap menunjukkan kepemimpinan dan komitmen yang tinggi terhadap kemajuan Malaysia.
Ia dikenal luas sebagai sosok yang bijaksana, penuh kasih sayang, dan sangat mendukung suaminya dalam memimpin negara.
Dari pernikahannya dengan Mahathir, Siti Hasmah dikaruniai tujuh orang anak yang juga menjadi tokoh terkemuka di Malaysia.
Beberapa anaknya bahkan turut mengikuti jejak kedua orang tuanya dalam berkarier di dunia politik dan sosial.
Di antaranya adalah Marina Mahathir, seorang aktivis sosial yang berfokus pada hak-hak perempuan, serta Mukhriz Mahathir, yang pernah menjabat sebagai Menteri Besar Kedah dan kini aktif dalam dunia politik.
Penghargaan dan Anugerah: Pengakuan terhadap Pengabdian Siti Hasmah
Pada tahun 2003, atas jasa dan dedikasinya dalam bidang sosial, kesehatan, dan pendidikan, Siti Hasmah dianugerahi gelar kehormatan “Tun” oleh Yang di-Pertuan Agong Malaysia.
Gelar ini merupakan gelar kehormatan sipil tertinggi di Malaysia, yang diberikan kepada individu yang memiliki pengaruh besar dan kontribusi luar biasa dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Gelar tersebut diberikan sebagai pengakuan terhadap peranannya sebagai ibu negara yang telah memberikan dampak positif dalam kehidupan masyarakat Malaysia.
Tun Dr. Siti Hasmah juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi sukarela dan kepemimpinan di bidang pendidikan, serta terlibat dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba.
Ia sering memberikan ceramah dan pelatihan kepada masyarakat, terutama terkait dengan kesehatan dan pendidikan, dengan tujuan untuk membangun Malaysia yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih berpendidikan.
Jejak Keluarga Perantau: Akar Budaya Minangkabau yang Kuat
Tun Dr. Siti Hasmah adalah contoh nyata bagaimana semangat perjuangan dan kerja keras dari keluarga perantau bisa melahirkan individu-individu yang berkontribusi besar di tanah rantau.
Keluarga Siti Hasmah, yang berasal dari Koto Rajo, Rao, Pasaman, Sumatera Barat, menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisional Minangkabau—seperti gotong royong, kedisiplinan, dan pendidikan—dapat menjadi fondasi bagi kesuksesan generasi berikutnya.
Keberhasilan keluarga Siti Hasmah juga menggambarkan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk meraih impian dan mengubah nasib.
Dari seorang wanita yang lahir di tengah keluarga perantau, Siti Hasmah berhasil menapaki karier di dunia kedokteran dan kehidupan sosial yang akhirnya membawanya menjadi ibu negara.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa asal-usul tidak membatasi potensi seseorang untuk sukses, asalkan ada niat yang kuat dan usaha yang konsisten.
Kesimpulan: Sosok Inspiratif yang Menjadi Teladan
Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali adalah seorang wanita yang sangat menginspirasi, bukan hanya karena posisinya sebagai istri Perdana Menteri Malaysia, tetapi juga karena kontribusinya yang luar biasa di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Sebagai seorang dokter, beliau berperan dalam mengembangkan sistem kesehatan Malaysia, terutama dalam hal kesehatan ibu dan anak.
Sebagai ibu negara, beliau mendampingi suaminya dalam dua periode pemerintahan, turut berkontribusi dalam membangun negara, serta menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
Selain itu, Siti Hasmah juga merupakan simbol dari keberhasilan keluarga perantau Minangkabau yang merantau ke Malaysia, namun tetap mengakar pada budaya dan tradisi asli mereka.
Keberhasilan Siti Hasmah dan keluarganya menunjukkan bahwa perantauan bukanlah hambatan, melainkan sebuah peluang untuk mencapai kesuksesan.
Dengan segala dedikasi dan pengabdiannya, Tun Dr. Siti Hasmah menjadi teladan bagi banyak orang, terutama para perempuan, bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan komitmen yang kuat, impian besar dapat diwujudkan.
Sebagai seorang figur publik dan pribadi yang rendah hati, Siti Hasmah terus menginspirasi banyak orang untuk berbuat baik bagi sesama, menjaga perdamaian, dan berkontribusi dalam kemajuan bangsa. | PkdpNews.Com | */Redaksi | *** |


1 Comment
oke