PkdpNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Belitung Timur (Beltim) telah mencatatkan angka inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,59 persen pada November 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 106,89.
Kenaikan ini terjadi setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya Beltim justru mencatatkan deflasi.
Dalam rilis resmi yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Beltim, angka inflasi ini mengindikasikan pergerakan harga yang signifikan menjelang akhir tahun, yang perlu diwaspadai oleh pemerintah dan masyarakat, terutama terkait dengan persiapan menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru 2027.
Dinamika Harga Menjelang Akhir Tahun
Kepala BPS Beltim, Dwi Widiyanto, mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga pada bulan November, termasuk naiknya harga emas, cuaca ekstrem yang memengaruhi pasokan ikan, dan harga daging ayam ras yang kembali normal setelah sempat melonjak sebelumnya.
Namun, meskipun beberapa komoditas menunjukkan normalisasi harga, sejumlah barang lain, terutama komoditas pangan, menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan.
“Berbeda dengan November tahun lalu yang masih mencatat deflasi, bulan November ini justru bergerak naik. Hal tersebut menyebabkan inflasi tahun ke tahunnya menjadi tinggi,” ujar Dwi Widiyanto dalam penjelasannya.
Ia juga menambahkan bahwa pola konsumsi masyarakat yang biasanya meningkat menjelang liburan akhir tahun berpotensi memperburuk tekanan inflasi, terutama pada komoditas-komoditas yang mengalami fluktuasi harga, seperti sayur-sayuran, ikan, cabai rawit, dan bahan pangan lainnya.
Antisipasi Kenaikan Harga dan Cuaca Ekstrem
Mengingat potensi dampak buruk dari cuaca ekstrem yang dapat mengganggu distribusi barang, terutama hasil perikanan, serta tingginya permintaan terhadap komoditas pangan menjelang Natal dan Tahun Baru, Plt. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Yeni Srihartati, yang mewakili Bupati Kamarudin Muten, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kemungkinan lonjakan harga.
Ia menyoroti bahwa beberapa komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga di antaranya adalah sayur-sayuran, ikan, bumbu dapur, dan cabai rawit.
“Memasuki Desember dan periode Natal dan Tahun Baru, kita perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga, terutama pada bahan pangan yang cepat rusak dan barang-barang konsumsi sehari-hari, yang seringkali melonjak harga saat musim belanja,” jelas Yeni Srihartati.
Penguatan Pengendalian Harga dan Pemantauan Pasokan
Dalam rangka mengendalikan inflasi dan menjaga kestabilan harga, Yeni Srihartati menekankan pentingnya penguatan pengendalian harga melalui koordinasi yang baik antara Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan pemerintah daerah.
Menurutnya, pengendalian harga bukan hanya soal mengawasi kenaikan harga, namun juga memastikan bahwa ketersediaan pasokan barang tidak terganggu, serta kelancaran distribusi di lapangan.
“TPID harus memperkuat koordinasi, memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan melakukan pemantauan lapangan secara rutin.
Data BPS harus menjadi rujukan utama agar setiap langkah benar-benar berbasis bukti,” lanjut Srihartati.
Di sisi lain, dia juga mengimbau agar edukasi kepada masyarakat lebih ditekankan, agar konsumen bisa lebih bijak dalam berbelanja, terutama saat perayaan besar atau libur panjang.
Pemahaman yang baik mengenai inflasi dan pengelolaan belanja keluarga bisa menjadi langkah preventif untuk mengurangi lonjakan permintaan yang tidak terkendali.
Tantangan Menghadapi Puncak Inflasi Menjelang Tahun Baru
Sebagai langkah antisipasi, para pemangku kebijakan di Belitung Timur harus menyusun strategi yang lebih matang dalam menghadapi puncak musim belanja di akhir tahun.
Salah satunya adalah memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga kestabilan harga.
Salah satu solusi yang bisa diimplementasikan adalah dengan mengoptimalkan penggunaan platform digital untuk pemasaran produk lokal, yang dapat mengurangi tekanan pada distribusi fisik barang.
Selain itu, penting untuk memperkuat kapasitas distribusi barang agar tidak terjadi kelangkaan atau lonjakan harga yang disebabkan oleh gangguan distribusi yang sering terjadi saat cuaca buruk.
Upaya pengelolaan pasokan yang lebih efisien ini diharapkan bisa menstabilkan harga dan mengurangi dampak inflasi pada masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Stabilitas Harga
Masyarakat juga diharapkan bisa lebih bijak dalam berbelanja, dengan memperhatikan kebutuhan jangka panjang daripada tergiur oleh harga-harga yang mungkin lebih tinggi saat menjelang liburan.
Pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme inflasi dan pengelolaan belanja pribadi dapat membantu mengurangi dampak inflasi yang terjadi.
Dwi Widiyanto menegaskan bahwa sementara inflasi pada bulan November 2025 relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pengendalian inflasi secara kolektif antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak buruk inflasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Kita harus tetap waspada dan mengantisipasi fluktuasi harga yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama di periode Natal dan Tahun Baru.
Kolaborasi yang baik antara semua pihak akan sangat membantu dalam menjaga kestabilan ekonomi daerah kita,” tutup Dwi Widiyanto.
Kesimpulan
Menghadapi inflasi yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun, pemerintah Kabupaten Belitung Timur bersama dengan masyarakat harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih besar.
Penguatan pengendalian harga, peningkatan pemantauan distribusi, dan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah-langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, peningkatan koordinasi antar sektor serta pemanfaatan data yang akurat akan menjadi kunci dalam menanggulangi tantangan inflasi yang semakin kompleks. | PkdpNews.Com | */Redaksi | *** |


1 Comment
oke